Persiapan Berangkat Haji Apa Saja?

Gimana persiapannya?
Pasti itu pertanyaan yang muncul dari teman2 beberapa hari menjelang keberangkatan. Biasanya saya tersenyum ga jelas.

Karena memang belum packing. Tapi sebenarnya senyum ga jelas saya mewakili perasaan ga jelas saya. Perasaan yang sama seperti menjelang hari pernikahan. Antara excited, kangen, bahagia, tapi juga nervous dan khawatir.

Agak lebay ya? Ga tau deh. Saya yakin setiap orang yang mau menikah rata2 merasakan hal yang sama seperti saya tapi kalau mau haji? Ga tau deh pada kayak gitu ga?

Ada rasa yang sangat personal di hati saya antara saya dengan yang mengundang saya. Saya merasa beruntung, campur terharu. Campur juga takut2 gitu. Takut berbuat kesalahan yang ga disukai. Takut ga menjadi tamu yang baik. Takut mengecewakan. Yah sejenis2 gitu.

Karena bagi saya, mungkin saja ini kesempatan seumur hidup sekali. Hanya 40 hari dalam ribuan hari kehidupan saya. 40 hari yang diekstrak 6 hari dalam pelaksanaan inti ibadah haji. Kesempatan sebentar untuk minta pengampunan dan minta semmmmuaaaaa hal yang mau diminta. Hari yang sangat2 dekat rasanya dengan Allah.

Haji adalah salah satu rukun Islam. Diwajibkan bagi mereka yang mampu. Rukun itu kan kuat banget ya hukum wajibnya. Sesuatu yang wajib banget kita usahakan untuk kita lakukan.

Definisi mampu ini terdiri dari mampu dari sisi kesehatan, finansial dan keamanan. Nah bagi kita yang ga sedang dalam perawatan kesehatan serius, di tabungan ada 25 juta lebih, kondisi negara aman2 saja, jatuh tu dalam definisi wajibnya. Masalahnya rukun Islam ni ga mengenal syarat mau. Mau ga mau ya dilakuin. Sholat juga ga bisa di excuse kan kalau lagi ga mau.

Masalah mampu ini, bagi kita2 yang de facto masuk ga mampu (secara finansial), akan terbuka kunci2 kemudahan hanya dengan 3 huruf. MAU. Karena haji adalah keajaiban. Allah yang aman selesaikan semua detail urusannya untuk mereka yang ada rasa mau (berusaha) yang kuat di hatinya.

Saya ingat tahun 2002 saat orang tua saya naik haji. Orang tua saya cuma punya uang untuk 1 orang naik haji. Maka mendaftarlah ibu saya. Di saat yang sama, ibu saya mendapat hadiah dihajikan dari kantornya, jadilah bapak akhirnya bisa berangkat.

Setiap tahun kita juga ga kurang2 dapat cerita mereka2 yang kasat mata terlihat kurang secara perekonomian tapi ternyata bisa ke sana. Masya Allah

Beda dengan masalah kemampuan untuk urusan kesehatan. Jauh lebiiiihhh sulit untuk lolos ke sana bila ada masalah kesehatan serius. Sudah tiga tahun ini skrining ketat di masalah kesehatan diberlakukan untuk syarat lolos jadi calon haji

Duh punten ceritanya bukan ceramah ini. Punten kalau ada salah. Saya mah ambu uthie sanes mamah dedeh
———————————————

Hikmah :
1. Kuatkan kemauan dan usaha untuk memenuhi rukun Islam yang satu ini.

2. Bila sudah memenuhi syarat mampu, jatuhlah kewajiban haji ini ke kita

3. Allah Maha Pemberi. Kesehatan dan harta atau kemampuan kita mencari harta adalah karuniaNya. Dia tahu percis kalau sebenarnya kita mampu (setidaknya mampu mengusahakan).

4. Ayooookkkk brangkat haji semuda mungkin yuk. Sebelum kelemahan dan penyakit tua mendatangi.

5. Kalau ada dana lebih, selain tabungan pendidikan boleh juga nih bikin tabungan haji untuk anak2. Kita hantarkan mereka mendekat ke Baitullah.

Keterangan gambar : setiap jamaah mendapat gelang haji. Duh serasa dapat cincin nikah. Tapi ini lebih wow karena ada ada barcode data kita.

Astaghfirullah
Wallahualam bishowab

Donohudan, 21 juli 2018

Sebelumnya

Tips Persiapan Persalinan dan Kelahiran Bayi ala dr. Judi Januadi Sp.OG (Review Buku)

Sesudahnya

REZEKI